Hitam-Putih…

Para tunawisma jarang menemukan diri mereka dalam pusat perhatian, tapi fotografer amatir Lee Jeffries telah menjadikan mereka objek dan subjek yang dikagumi. Jeffries, lelaki asal Bolton, Inggris, ini berkeliling Eropa dan Amerika Serikat, menghasilkan foto-foto hitam-putih tunawisma yang begitu ekspresif.

Setiap wajah ditunjukkan dalam detail yang luar biasa dan penuh emosi. Jeffries, pertama kali memotret tunawisma pada 2008 saat mengunjungi London. Ketika berjalan melintasi alun-alun Leicester, pria 40 tahun ini mengambil gambar seorang gadis tunawisma yang tenggelam dalam kantong tidurnya.

Foto itu diambil secara candid. Namun, Jeffries yang menyangka gadis itu tak tahu ternyata sebaliknya. Tahu dipotret, gadis itu bereaksi keras. ”Aku sangat malu dan dihadapkan pada sebuah keputusan:pergi atau mendatangi dan meminta maaf,”kata Jeffries kepada lomography.sk

Pria akuntan ini mengambil opsi kedua. ”Saya memilih yang terakhir, gambar dan cerita darinya telah membuat saya berjalan pada fotografi selamanya,”kata dia. Continue reading

Fotografi Menurut Saya…

Bagi saya, tidak ada kata lain buat Kang Yayat, selain LUAR BIASA. Saya sungguh-sungguh mengapresiasi dan terkesima dengan tekad bulatnya untuk belajar fotografi.  Sepanjang sepengetahuan saya, tak semua orang demikian total belajar, dari bisa sedikit, step by step, hingga pengetahuan terus berkembang.

 

Saya sendiri adalah contoh nyata tipikal orang yang punya keinginan, tapi tidak demikian bulat mewujudkan. Soal fotografi, misalnya, sama seperti Kang Yayat, saya juga sangat ngiler dengan DSLR. Bedanya, beliau ini langsung mencairkan dolar dan membeli, sementara saya belum juga keturutan. Saya kenal beberapa fotografer, secara peluang untuk belajar fotografi pro sangat terbuka. Namun itu toh tidak saya lakukan.

Itulah mengapa saya harus angkat topi untuk Kang Yayat, fotografer yang mantan “Lurah Pacar Kembang” dan kini “Lurah Ploso, Surabaya” ini :D . Langkah demi langkahnya dalam mempelajari fotografi tertuang di getolmoto  dan sangat menginspirasi. Meski belum bisa mempraktikkan, setidaknya saya dapat merasakan betapa hunting foto itu sangat menimbulkan gairah. Continue reading

Murdoch on Twitter

Apakah sampeyan sudah punya akun Twitter? Atau, jangan-jangan sampeyan termasuk golongan jamaah tuit yang suka berlama-lama di linimasa? Berbahagialah sampeyan karena makin banyak orang hebat masuk di situs mikroblogging ini. Sampeyan pasti tahu Rupert Murdoch. Jika berkenan lihat kayak apa tuit-tuitnya dia.

A new year, a new you. Begitu tulis The Guardian untuk mendeskripsikan bergabungnya CEO News Corporation Keith Rupert Murdoch di situs mikroblogging Twitter. Taipan media berusia 80 tahun  itu mengejutkan banyak orang ketika memutuskan membuka akun di jejaring sosial ciptaan Jack Dorsey tersebut, 1 Januari 2012 kemarin.  

 

Taipan Media, pemilik News Corporation

Meramaikan Twitterland, Murdoch yang menggunakan akun @rupertmurdoch itu berkicau banyak hal, dari resolusi tahun baru hingga kegiatan sehari-hari, semisal membaca biografi Steve Jobs, hingga merekomendasikan bintang film George Clooney untuk nominasi Piala Oscar.

“Selamat 2012. Mungkin ini lebih baik dari semua yang diprediksikan para ahli. Harus! Harus mengubah segalanya untuk menciptakan pekerjaan untuk semua, terutama kaum muda, ” bunyi salah satu kicauan (tweet) Murdoch. “Resolusi saya, mencoba untuk menjaga kerendahan hati dan selalu ingin tahu. Dan tentu saja diet! ,” bunyi tweet yang lain.

Pria kelahiran Melbourne, 11 Maret 1931 ini juga berbagi dengan followers-nya bagaimana dia menilai sebuah film. ”Aku cinta film ‘we bought zoo’, film keluarga yang hebat. Sangat bangga dengan tim Fox yang membuat film ini,” sebut penguasa jaringan FOX, HarperCollins, dan BSkyB ini dikutip DailyMail. Continue reading

Lido…dan sedikit soal Libido (2)

Apakah sampeyan sudah membaca kisah diskotek Lido yang saya tulis sebelumnya? Jika belum, sempatkanlah mumpung masih gratis. Ini sedikit lanjutan soal dunia remang-remang di jantung kota Cape Town itu.

Pagi menjelang, membunuh malam yang bergelimang senang. Dentuman house music masih mengalir kencang ketika jarum jam menunjukkan pukul 03.00. Beberapa hits milik  Ungu dan T2  menawarkan keceriaan di ruang remang-remang itu. Sejumlah sofa panjang dan kursi-kursi kayu satu demi satu kosong. Maklum, seperti dikatakan para anak buah kapal (ABK) Indonesia, minggu malam memang bukan waktu tepat untuk mengusir lelah di Lido. Para tamu memilih pulang lebih cepat.

Wanita bertubuh semampai kelahiran Cape Town yang mengaku bernama Cindy itu terus merajuk. Dia mengajak pergi. Lama tak dapat jawab akhirnya agak kesal juga. “Saya butuh uang, belum bayar sewa rumah,” katanya beralasan. Cindy mengaku keuanganya menipis setelah tersedot untuk perawatan tubuh dan belanja pakaian. Entah benar, entah tidak. Continue reading

Tata Kota Kyoto (3-subway)

Apakah sampeyan pernah ke Kyoto? Jika ya, tentu mengerti dengan Kyoto-eki (stasiun Kyoto) yang megah dan moderen itu. Saya lupa pernah menulis tata kota Kyoto beberapa waktu lalu. Ini bagian ketiga dan terakhir

WOW. Hanya itu kata bisa terucap saat menyaksikan langsung Kyoto-eki. Sulit untuk mendeskripsikan betapa megah dan modernnya stasiun terbesar kedua di Jepang ini. Terdiri dari 16 lantai, termasuk tiga lantai di bawah tanah, stasiun ini bukan hanya menjadi pusat moda transportasi kereta api, melainkan salah satu urat nadi bisnis di Kyoto.

Stasiun Kyoto, megah dan sangat modern

Betapa tidak, stasiun yang desainnya dirancang Hiroshi Hara ini dijejali dengan kantor-kantor pemerintah, kantor pos, museum, pusat perbelanjaan,  puluhan restoran, bioskop, dan sebuah lantai observasi di atas. Luas keseluruhan lantai mencapai 238.000 m2. Memandang dari lantai tiga, hilir mudik ribuan manusia mewarnai stasiun yang bangunannya sepanjang 470 meter, lebar 60 meter, dan tinggi 60 meter ini. Mereka seolah diburu waktu. Terbukti, tak ada yang berjalan lambat. Semuanya berlangsung sangat cepat. Continue reading

Kamila Andini…

Apakah sampeyan kenal Kamila Andini? Saya kasih tahu: dia adalah sutradara dan penulis skenario. Cewek yang akrab dipanggil Dini ini barangkali masih hijau di jagat perfilman Tanah Air. Namun, karya perdananya di layar lebar telah membawa harum nama Indonesia di kancah internasional. The Mirror Never Lies atau cermin tak pernah berbohong menahbiskan Dini sebagai sutradara muda penuh talenta.

Dimulai dari Festival Film Busan, Korea, mayoritas kritikus memuji film yang berlatar suku Bajo di Wakatobi, Sulawesi Selatan tersebut. Berlanjut di Festival Film Internasional Mumbai, Dini menyabet penghargaan Bright Young Talented award. Belum lagi di Festival Film Tokyo dengan dua penghargaan dan sebuah lagi di fetival film di Manila. Jelas bukan perkara gampang menuai prestasi bergengsi itu. Apa arti film bagi wanita 25 tahun ini? Berikut petikan dengan putri sulung sineas Garin Nugroho tersebut:

Sederet penghargaan untuk film debut sepertinya belum semua sutradara dapat melakukan. Bisa diceritakan bagaimana proses ke sana?

Iya Mirror (The Mirror Never Lies) itu sebenarnya bulan oktober kemarin itu sempat kelililing-keliling yang international premier-nya itu di Busan. Kebetulan tidak dapat apa-apa, namun kritikus memberikan pandangan positif untuk film ini. Setelah itu ke Mumbai, masuk ke international competition. Nah di sini dapat penghargaan Bright Young Talented Award. Continue reading

Kamila Andini (2)

Apakah sampeyan kenal Samira Makhmalbaf? Buat yang belum tahu, dia adalah sutradara dan penulis skenario asal Iran.Samira adalah putri sutradara kondang Mohsen Makhmalbaf. Pada usia 17 tahun, setelah memproduksi dua video, Samira menggarap film pertamanya, The Apple.  Setahun kemudian, dia tercatat sebagai sutradara termuda yang pernah berpartisipasi di Festival Film Cannes, Prancis. Apa hubungannya dengan Kamila Andini?

Jalan hidup Dini sekilas serupa dengan Samira. Sama-sama bergulat di jagat film di usia belia dan putri seorang sineas kenamaan. Adakah suatu kebetulan di sana? ”Aku memang terinspirasi Samira Makhmalbaf,”kata Dini di rumahnya yang asri di kawasan Bintaro. Menurut dara kelahiran Jakarta 6 Mei 1986 ini, Samira yang memulai debut di usia muda membuatnya meyakini satu hal bahwa dengan kemauan dan kerja keras tak ada yang tak bisa dilakukan.

Asal tahu, meski dalam darahnya mengalir deras gen Garin Nugroho, Dini tak serta merta tertarik di dunia film. Dia baru mengikuti jejak ayahnya semasa SMA dengan membuat film pendek dan dokumenter. Karier profesionalnya sebagai pembuat film dukumenter dimulai selepas menyelesaikan pendidikan sosiologi dan seni media dia Universitas Deakin, Melbourne, Australia. Continue reading

Masih tentang Cape Town

Apakah sampeyan tahu bagaimana keindahan Cape Town? Harian Seputar Indonesia pernah menuliskan demikian: inilah salah satu kota dengan panorama paling menakjubkan di dunia.Berlatarkan Table Mountain yang melegenda, berteraskan pantai paling ujung di Afrika,Cape Town selalu meninggalkan memori yang membekas.

Ya, itu betul sekali. Kota yang dikembangkan Jan van Riebeeck ini memang sungguh memesona. Lanskap alamnya luar biasa. Sebagai pertemuan budaya Afrika,Eropa, dan Asia, nuansa kota dan keragaman budayanya begitu elok. Andai saja sampeyan saat ini memegang buku Seven Days in Cape Town tulisan Sean Fraser, itulah wajah kota yang begitu didambakan jutaan manusia ini. Pada pertengahan Juli lalu, saya sempat merekam secuil dari berbagai keindahan yang bertebaran itu. Sayang karena keterbatasan kamera (hanya kamera saku Cannon) dan waktu, semuanya tak dapat tergambarkan utuh. Inilah di antaranya:

Table Mountain dipotret dari V&A Waterfront

Pelabuhan Table Bay yang sibuk namun memesona

Continue reading

Lido…dan sedikit soal libido (1)

Apakah sampeyan tahu diskotek Lido di kawasan Darmo Park Surabaya? Sungguh suatu hal yang benar-benar di luar perkiraan saya ketika menemukan tempat serupa dengannya nun jauh di sana. Di Cape Town, Western Cape, Afrika Selatan, tepatnya.

Pertengahan Juli 2011. Pada sebuah malam yang udara dinginnya terasa menusuk tulang, kami keluar dari taksi tua di kawasan Hans Strijdom Ave. Sesungguhnya perjalanan dari Hotel Fountain, tempat saya menginap tak jauh. Mungkin sekitar 10 menit jalan kaki. Tapi ini malam bung, di Afrika pula. Biarpun Cape Town terkenal aman, selalu ada peringatan: jangan jalan kaki saat malam, apalagi sendirian!.

Pintu sekira 1,5 meter lebarnya menyambut langkah kaki. Di dalam ruangan terlihat samar, namun pendaran warna merah amat mendominasi. Perlahan rasa hangat mulai menjalar. Adalah dentuman musik trance tiada henti yang mengusir dingin di tubuh. Genre musik dengan ciri khas beats per minute kencang dan special effect itu memang seolah mempercepat alirah darah.

ajeb-ajeb di diskotek Lido Cape Town

Wanita berambut sebahu menghampiri. “Ayo sini kamu kasih aku 240 rand,” katanya tanpa basa-basi. Andai saja malam itu tak berada di Cape Town, mungkin saya tidak akan terkejut. Namun ini adalah kota yang terpisah ribuan kilometer jauhnya dari Indonesia. Apalagi wanita itu, Nicky, adalah capetonian (warga kelahiran Cape Town).

Awi Saputra, Erwan, dan Asep, tiga anak buah kapal (ABK) ikan berbendara Jepang yang menjadi teman di malam musim dingin itu tersenyum. “Benar kan…?,” kata Awi penuh arti.  Di sofa panjang empuk kami mendaratkan tubuh. Nicky kembali datang. Kali ini tak meminta uang, melainkan menyodorkan empat pak bir bminuman kaleng. Barulah saya tahu uang yang diminta sebelumnya  adalah harga untuk minuman penghangat tersebut. Ditemani keripik kentang berasa sedikit masam khas Afsel, telinga kami biarkan dihantam musik-musik clubbing yang menghentak tanpa jeda. Continue reading

Kuburan Binatang Surabaya (KBS)

Kalimat apa lagi yang mesti dipakai untuk menggambarkan kematian beruntun satwa Kebun Binatang Surabaya (KBS) akhir-akhir ini? Haruskah kita mengutuk, menghujat, atau justru memberi solusi? Ah, entahlah. Bicara apapun tentang kejadian ini rasanya juga percuma. Tidak ada yang benar-benar berubah dari tempat ini.

Setahun silam, kematian beruntun satwa juga terjadi. Begitu mengenaskannya hingga membuat dunia memberikan sorotan. “680 deaths! What kind of place was that?”, tanya Maria Martinez menahan geram. Aktivis penyayang binatang asal Spanyol itu terlihat sangat marah ketika membaca laporan tentang kematian beruntun satwa KBS di situs care2. Kegeraman Maria dituangkan dalam kolom komentar di bawah berita yang menyebut dalam dua tahun lebih dari 600 satwa mati di kebun binatang legendaris itu. Maria tak sendiri. Cindy C, asal Yorkhsire, Inggris, pun murka. “Oh my god that is so dreadful,” ujarnya bergidik.

komodo koleksi KBS (ANTARA)

Care2, situs yang mengampanyekan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan satwa (animal welfare) termasuk yang paling aktif menyajikan situasi KBS saat itu. Dimulai dari kematian kanguru dan harimau Sumatera hingga tentang kisah berakhirnya hidup Osama, singa Afrika. Ketika mengungkap data kematian satwa-satwa itu, komentar dan kecaman bermunculan. Bahkan, Gerlinde P, salah satu member situs itu dengan ketus melontarkan kekesalannya. ”Tutup saja, kebun binatang itu tak lebih dari sampah!”

Jangan mengira bahwa borok KBS hanya menjadi konsumsi dalam negeri. Di kalangan aktivis penyayang binatang mancanegara, kebun binatang surabaya kini masuk dalam daftar hitam. Dalam berbagai situs, blog perlindungan satwa, dan blog komunitas, berita kematian satwa KBS cukup menonjol. Lebih dari itu, sejumlah media online dan koran cetak luar negeri memberikan porsi lumayan tentang prahara itu. Continue reading